sas.lantip.info

Apa Susahnya Senyum?

by salman

Kilas balik di tahun 1993, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki di Jabedetabog. Dengan semangat yang menggebu ingin mengejar impian, dengan bekal isi otak penuh, isi hati penuh, dan isi kantong yang tiris.

Ada sebuah pengalaman bagi saya tidak akan pernah terlupakan! Kalau di Kota –saya sebut kota bukan kampung, karena memang sebuah kota– asal saya, bahkan pada orang yang belum kita kenal pun kita bisa menyapa dan melempar senyum yang bisa dipastikan akan direspons. Bahkan oleh orang yang dipandang masyarakat sebagai penjahat sekalipun. Mungkin karena sudah mendarah daging, budaya ini juga terbawa kemana-mana. Termasuk ke Jabedetabog.

Kejadian yang saya alami ini terjadi pada bulan-bulan pertama kuliah di Kodya Depok. Sebagai contoh ketika bersimpangan dengan seorang mahasiswa, saya memberikan senyum pada mahasiswa tersebut di jalan setapak yang kebetulan sepi. Cuma ada saya dan mahasiswa tersebut. Dan tentu saja saya tersenyum pada dia, apa yang saya dapatkan? Apalagi sebuah senyum balasan! bahkan saya seolah-olah tidak ada disitu!

Kontan saya malu banget! Padahal gak ada orang lain juga sih! Tapi malu bener rasanya! Beberapa kali kejadian serupa saya alami. Saya cuma tahan 3 bulan. Setelah tiga bulan pertama saya pulang ke kota asal. Nyaris sebulan, padahal tengah-tengah kuliah berjalan. Ya, karena bener-bener gak tahan! Setelah emosi di dada reda saya kembali ke kampus lagi, karena impian saya lebih kuat. Semenjak itu, saya pikir halah biarkan saja mungkin orang yang saya sapa atau beri senyum dan mengabaikan saya memang sedang suntuk atau lagi diterpa masalah yang dia pusing memikirkannya.

Padahal adanya teman itu karena sering bertemu dan berinteraksi. Yang tadinya tidak kenal jadi kenal. Yang tadinya kenal jadi akrab. Yang tadinya akrab jadi saudara. Dan hubungan itu akan membuka pintu rejeki! Bukankah “Penutup Para Nabi” yang Mulia telah mengisyaratkan bahwa rejeki itu akan luas dengan membangun silaturahmi? Dan barang siapa yang memutuskan silaturahmi akan mendapat hukuman yang sungguh berat. Ya paling tidak pintu rejekinya akan sempit dan itu sudah berupa hukuman yang sangat menyiksa! Dan semua itu adalah untuk kebaikan si manusia itu sendiri!

Kalau ditarik ke kondisi saat ini. Para pengguna Internet sudah jamak menggunakan yang namanya instant messenger atau perangkat website sosial yang sudah ada dan gratis digunakan, semisal: yahoo messenger, goggle talk, facebook, dll. Tapi ternyata dengan adanya teknologi ini tidak mengubah kebiasaan sosial manusia.

Kita tilik dua pengguna ekstrim yang di dunia nyata adalah manusia “marketing” dan manusia “teknis”. Yang pertama sangat kehidupan sosialnya sangat tinggi! Mereka sangat mudah bergaul, banyak mempunyai teman, dan lebih bisa memahami orang lain secara emosi. Akibatnya lebih menjaga perilaku dan bicaranya. Dan yang kedua, tertutup, kurang bergaul alias temannya dikit, selalu pusing dengan urusan teknis –mungkin orang yang kayak gini yang saya sering temui di jalan–, susah senyum dan jarang merespons orang. Dan hasilnya orang juga malas berinteraksi dengan orang seperti ini. Orang-orang tipe ini lebih suka bergaul dengan sesamanya saja. Dalam pergaulan kurang menjaga perilaku dan bicara. Sekilas kasar cara bicaranya, meski apa yang dikatakannya benar. Sedikit bicara, tapi kalau bicara wah pedes banget!

Bagaimana dengan Anda?