sas.lantip.info

Antara Takut dan Bersyukur

by salman

Suati hari, saya makan dengan nasi, tempe goreng, dan sambel terasi.

Suati hari, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan berbilik bambu. Yang dipoles dengan “wallpaper” cap tiga roda.

Suatu hari, saya lulus dan sudah waktunya masuk SMP. Alhamdulillah bisa masuk ke SMP yang kata orang adalah sekolah terbaik di kota saya tinggal. Dan saya tidak punya uang 50 ribu rupiah untuk daftar ulang. Ada “kekuatan” yang menggerakkan seseorang untuk menanyakan kesulitan saya dan kemudian membantu saya dan orang tua saya.

Suatu hari, saya lulus SMP dan sudah waktunya masuk SMA. Alhamdulillah masuk ke SMA, yang kata orang termasuk sekolah favourite. Suatu hari, saya sangat ketakutan diminta memegang uang hasil usaha teman saya yang jumlahnya 1 juta, dalam perjalanan dari Jogjakarta ke Surakarta.

Suatu hari, setelah saya sempat melepas angan-angan saya untuk bisa bersekolah tinggi, karena perhitungan biaya di atas kertas pasti tidak dapat saya raih. Dengan menguatkan niat, saya mengikuti test masuk PTN dan masuk ke PTN yang lagi-lagi kata orang termasuk PTN bagus di Indonesia. Alhamdulillah selesai meskipun lama dan dengan nilai yang tidak jelek.

Suatu hari, saya bisa membayar uang muka motor pertama saya. Dan sempat bergetar hati saya, karena takut uang tersebut tidak saya dapat dari jalan yang benar.

Suatu hari, dengan nekat saya bisa membayar uang muka rumah pertama saya. Lagi-lagi saya ketakutan, kalau uang yang saya gunakan saya dapat dari jalan yang salah.

Suatu hari, saya bisa membayar uang muka rumah orang tua saya. Hati saya bergetar karena bahagia. Bukan karena jumlah uangnya, yang sebesar harga rumah saya yang pertama.

Suatu hari, saya bisa membeli mobil saya yang pertama. Meski tidak baru, tapi sangat bagus menurut saya.

Dan hari ini, sungguh-sungguh saya mengalami kejadian yang bertubi-tubi yang membuat saya merasa takut sekaligus bersyukur. Takut karena tidak akan kuat menahan cobaan-cobaan kenikmatan dan bersyukur karena telah diberi kenikmatan yang tiada batasnya.

Di saat saya sedang terengah-engah mengerjakan pekerjaan yang 30% otak dan 70% otot. Beberapa penawaran yang saya ajukan ke beberapa klien setia mendapat sambutan yang menggembirakan.

Membuat saya merenung berpuluh-puluh kali. Sehingga saya sadar dengan apa yang tertulis:

“Maka, Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?”

“Dalam Setiap Kesulitan Selalu ada Kemudahan”

E.O.PoV.